Peranan Penyuluh Pertanian Terhadap Kinerja Kelompok Tani (Studi Kasus Di Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang) (PRT-114)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian di Indonesia telah berkembang dengan pesat dan telah mencapai hasil yang memuaskan yaitu telah dicapainya swasembada pangan (beras) pada tahun  1984. Secara bertahap perhatian pemerintah dalam kegiatan penyuluhan telah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan petani serta titik berat penyuluhan   telah   bergeser   dari   budidaya  tanaman   kepada   manusia   yang membudidayakan tanaman tersebut yaitu petani. Berbagai pendekatan penyuluhan pertanian   yang   telah   dilaksanakan   di   Indonesia   antara   lain   :   pendekatan penyuluhan pertanian secara umum, secara komoditas, latihan dan kunjungan, partisipasi,  proyek,  sistem  usahatani,  sumber  dana  dan  secara  kelembagaan pendidikan (Suhardiyono, 1990).

Peran agen  penyuluhan  pertanian  adalah  membantu  petani  membentuk pendapat          yang       sehat dan membuat keputusan yang                baik dengan          cara berkomunikasi dan memberikan informasi yang mereka perlukan. Peran utama penyuluh dari  banyak negara pada massa lalu dipandang sebagai ahli teknologi dari peneliti ke petani.  Sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses  membantu  mereka  untuk  mengambil keputusan  sendiri  dengan  cara menambah pilihan-pilihan bagi mereka dan  menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut (Van den Ban dan  Hawkins, 1999).

Perencanaan penyuluhan pertanian di daerah di dasarkan atas kegiatan penyuluh,   bukan atas  dasar  kebutuhan  petani.  Dalam  sistem  desentralisasi, penyelenggaraan  penyuluhan pertanian  seharusnya  didasarkan  atas  kebutuhan lokal.   Para   petani   perlu   diberi  kesempatan   untuk   berperan   aktif   dalam memperbaiki             mutu penyuluhan pertanian sesuai dengan   kebutuhannya. Kemampuan          petani untuk          berubah sesuai     dengan                   perubahan             lingkungan masyarakat  kini  semakin  tinggi.   Begitu pula  dengan  kemampuannya  untuk menerapkan inovasi baru dibidang pertanian karena adanya perubahan teknologi yang terjadi pada masyarakat sekitarnya. (Harun, 1996)
Kesediaan             petani     bekerjasama          dengan   penyuluh pertanian akan memudahkan penyuluh pertanian dalam mentransfer program penyuluhan yang telah  ditetapkan. Kerjasama tersebut misalnya dalam bentuk, kesediaan petani untuk aktif dalam pertemuan, pembuatan rencana kelompok, pengadaan saprodi, pengendalian           hama       dan penyakit dengan           pengendalian        hama                terpadu, pemeliharaan  dan  pengelolaan  irigasi,  pemasaran  hasil  dan  kegiatan  yang diadakan oleh penyuluh pertanian  lainnya misalnya : diskusi, kursus, sarasehan dan lainnya (Anonymous, 2000).


Usaha-usaha  untuk  mengubah  perilaku  masyarakat  melalui  perubahan sosial yang direncanakan (planned social change). Merupakan salah satu tujuan program  penyuluhan pertanian,  dalam  hal  ini  diarahkan  untuk  memperbaiki sistem-sistem      sosial      yang terdapat pada masyarakat dan           pada akhirnya penyuluhan  ini  memperbaiki  mayarakat secara  keseluruhan.  Sistem  sosial  ini dapat berupa keluarga, rukun tetangga, kelompok dasa wisma, kelompok tani, koperasi  unit  desa  dan  lain-lain.  Setiap  sistem  sosial  ini anggota-anggotanya bekerja sama untuk  memecahkan masalah secara bersama. Tujuan bersama ini dapat berupa upaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan terhadap teknik budidaya  tertentu,  meningkatkan  ketersediaan   input  produksi  setempat  dan meningkatkan produksi dan pendapatan petani (Harpowo, 1996).

Melalui   pengorganisasian petani     dalam      kelompok-kelompok  maka diharapkan dapat terjalin kerjasama antar individu dimana kelompok berfungsi sebagai kelas belajar, untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, sebagai unit produksi untuk mencapai skala ekonomis dan sebagai kerja sama pengelolaan usaha  taninya  mulai  dari  pengadaan sarana produksi  sampai  pemasaran  hasil selanjutnya, dengan semakin meningkatnya mutu kerja sama  yang dilaksanakan kelompok tani (Departemen Pertanian, 1985).

Peran Penyuluh    Pertanian dewasa ini  lebih dititikberatkan pada pendekatan kelompok, yakni  melalui  pembinaan  kelompok  tani.  Hal  ini didasarkan  pada peran Penyuluh sebagai pembimbing, sebagai teknisi, sebagai agen penghubung serta sebagai organisator dan dinamisator yang mempengaruhi kelompok-kelompok tani. Adanya peranan Penyuluh dalam pembinaan kelompok tani akan sangat membantu terjadinya hubungan interpersonal antara keduanya. Sehingga  diharapkan  proses  transfer  informasi  maupun adopsi  inovasi  akan berjalan  dengan  lancar  yang  pada  akhirnya  mampu meningkatkan  kinerja kelompok tani serta mengubah kesejahteraan petani menjadi lebih baik.



Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Cara Seo Blogger

Contoh Tesis Pendidikan