Kehidupan Sosial, Budaya dan Ekonomi Masyarakat Nelayan” (Studi pada Masyarakat Nelayan Desa Pangerungan Besar Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep Madura) (PRT-118)


BAB I
PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai bangsa maritim yang memiliki pantai terpanjang di  dunia, dengan garis pantai lebih 81.000 km. Dari 67.439 desa di Indonesia, kurang  lebih 9.261  desa dikatagorikan sebagai desa pesisir. Desa- desa pesisir adalah   kantong kantong  kemiskina struktural   yang   potensial.   Kesulitan mengatasi masalah kemiskinan di desa- desa pesisir telah menjadikan penduduk di kawasan  ini  harus menanggung  beban kehidupan  yang  tidak  dapat  dipastikan kapan  masa  berakhirnya.  Kerawanan dibidang sosial-  ekonomi  dapat  menjadi lahan subur bagi timbulnya kerawanan- kerawanan dibidang kehidupan yang lain.

Di  samping  sebagai  Negara  maritim  Indonesia  juga  merupakan  negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 pulau dan 81.000 Km garis pantai, dimana  sekitar  70 % wilayah  teritorialnya  berupa laut. Selain  beberapa  pulau besar, sebagian besar dari 17.508 pulau itu adalah pulau- pulau kecil yang tidak berpenghuni. Bahkan hanya 5.700 yang mempunyai nama. Ada pula pulau- pulau kecil yang dihuni penduduk,  meskipun jumlahnya sedikit.Dengan perairan  laut seluas  total  5,8  juta  Km2  (berdasarkan konvensi  PBB  tahun 1982),  Indonesia menyimpa potens sumberdaya    hayati   dan   non   hayatyanmelimpah (Simanungkalit       dalam    Resosudarmo,   dkk.,2002).        Hal        ini             menyebabkan sebahagian  besa masyarakat   tinggal  dan  menempati  daerah  sekitar wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Jumlah  nelayan  perikanan laut  di  Indonesia  menurut  kategori nelayan maka  status  nelayan  penuh  merupakan  jumlah terbesar  dari  nelayan  sambilan utama  maupun  nelayan  sambilan  tambahan  dan  jumlah ini  setiap  tahunnya menunjukkan peningkatan (Dirjen Perikanan Tangkap, 2002). Hal ini mempunyai indikasi bahwa  jumlah nelayan  yang cukup besar ini merupakan suatu potensi yang besar dalam pembangunan perikanan.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Beralihnya Tenaga Kerja Dari Sektor Pertanian Ke Sektor Non Pertanian (Studi Kasus di Desa Kebonagung Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang) (PRT-117)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 
Sasaran utama pembangunan itu adalah tercapainya suatu landasan yang kuat bagi  bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang menuju masyarakat yang  adil  dan  makmur  berdasarkan  Pancasila.  Dalam  rangka  pelaksanaan pembangunan jangka panjang pemerintah  menitik beratkan pada pembangunan dibidang ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara pertanian dan  industri.  Agar  pembangunan  dapat  dicapai maka  pembangunan  itu  harus dilakukan  secara  bersama-sama  oleh  masyarakat  dan pemerintah.  Masyarakat merupakan komponen utama pembangunan, sedangkan pemerintah mempunyai tanggung  jawab  untuk  mengarahkan  dan  membimbing  agar cita-cita  nasional dapat dicapai. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat harus dapat dukungan dari pemerintah.

Negara yang sedang berkembang biasanya menghadapi berbagai masalah antara  lain masalah  kemiskinan  dan  masalah  tenaga  kerja.  Masalah  ini  dapat timbul   karena  tingkat  pertumbuhan   penduduk   yang   sangat   besar.   Jumlah penduduk yang besar akan menjadi salah satu modal dasar pembangunan dan pendorong pembangunan apabila disertai dengan peningkatan kualitas penduduk. Angka pertumbuhan penduduk yang     tinggi    juga      dapat    menjadi beban pembangunan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.

Indonesia  sebagai  salah  satu  negara  yang  sedang  berkembang,  laju pertumbuhan penduduk masih tinggi dan ini menjadi permasalahan dimasa yang akan  datang.  Keadaan ini  menyebabkan  besarnya  jumlah  penduduk,  struktur penduduk   usia   muda,   dan  tingkat   pengangguran   tinggi,   serta   penyebaran penduduk yang tidak sesuai dengan sumberdaya alamnya. Pertumbuhan penduduk Indonesia  yang  sangat  besar  tersebut  akan membuat  struktur  kependudukan Indonesia bertumpu pada usia muda. Struktur penduduk usia muda  memberikan gambaran besarnya angka beban ketergantungan yang tinggi.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Perbandingan Nilai Tambah Dan Keuntungan Berbagai Produk Olahan Pangan Pada Kube Teratai (Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo) (PRT-119)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
              Dalam pola dasar pembangunan Jawa Timur 2001-2005 disebutkan bahwa, misi utama pembangunan daerah Jawa Timur adalah mengembangkan perekonomian terpadu yang berorientasi global berbasis potensi daerah dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya alam yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta mampu memberdayakan ekonomi rakyat sehingga. Sektor    pertanian mampu menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat. Banyak bahan alami Indonesia khususnya tumbuhan yang mempuyai prospek   untuk dijadikan makanan tambahan atau dijadikan suatu produk olahan pangan. berpijak dari hal tersebut pembangunan pertanian ke depan diarahkan kepada pengembangan usaha agribisnis baik itu skala industri kecil ataupun besar yang mampu berdaya saing serta berkelanjutan

              Sejalan dengan hal tersebut, program peningkatan pertanian Jawa Timur difokuskan pada peningkatan ketahanan pangan berwawasan agribisnis, pemberdayaan ekonomi petani, peternak dan nelayan, serta peningkatan produksi dan daya saing komoditas ekspor (Imam Utomo, 2000). Ketiga hal tersebut saling terkait, dalam arti bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berwawasan agribisnis dan peningkatan daya saing industri-industri kecil rumah tangga yang kontribusinya sangat besar untuk pengembangan ekonomi daerah, baik itu skala industri kecil atau menengah yang mampu memberi nilai tambah bagi suatu pengembangan  perekonomian daerah.   

             Pembangunan sektor pertanian untuk sangat ini lebih mengarah pada pola pengembangan industri agribisnis baik itu industri pengolahan pangan ataupun yang lebih mengarah pada pembinaan pengrajin atau pengusaha industri kecil dan menengah guna meningkatkan sumber daya manusia, dan meningkatkan kualitas hasil produksi serta peningkatan pelayanan informasi dan perijinan sektor industri kecil, dimana keberhasilan pelaksanaan pembangunan pemerintah dilaksanakan melalui program dan kegiatan pembangunan antara lain: pengembangan Industri Rumah Tangga (IKM), peningkatan kemampuan teknologi industri dan penataan struktural industri kecil. Oleh karena itu di Kabupaten Probolinggo tepatnya di Kecamatan Kraksaan dibentuklah suatu kelompok usaha bersama (KUBE) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya yang skala usahanya termasuk skala industri kecil serta pendirianya dipelopori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Teratai.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Kelompok Tani Dalam Penyampaian Teknologi Baru Pada Petani Anggota Di Desa Boluroto Dan Banjarejo Kecamatan Manjarejo Kabupaten Blora (PRT-116)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dan dominan, hal ini ditunjukan  dengan banyaknya  penduduk  yang  tergantung  pada  pertanian. Namun  melihat  perkembangan yang  terjadi,  pertanian  di  Indonesia  belum maksimal. Mulai dari  input  yang  digunakan           sampai  output    yang dikeluarkanpun belum bisa diandalkan.

Keadaan  tersebut  banyak disebabkan oleh  berbagai  faktor,  mulai dari keputusan petani dalam menentukan komoditas, penggunaan faktor produksi, panen,  serta pasca panen yang masih tradisional. Selain itu pengetahuan dan pengalaman petani juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dari usaha tani yang dilaksanakan oleh petani.

Guna  menunjang  perkembangan  pertanian  perlu  diteruskan          dan disempurnakan  usaha penyuluhan   dan  pendidika pertanian,   juga   perlu dilanjutkan  perbaikan   dan  perluasan   prasarana,   pembukaan   lahan   baru, penyediaan  berbagai  sarana  prosuksi yang  memadai,  kemudian  penyediaan kredit dengan syarat yang tidak terlalu membebani bagi petani, serta penelitian dan  pemilika teknologi   yang  tepat,  yang  disebarkan keseluruh  daerah masyarakat petani ( Anonymous, 1988 ).

Untuk  mewujudkan  sasaran  pembangunan  pertanian  serta  merespon perkembangan  globalisasi   perekonomian   dan   tuntuta konsumen   yang semakin menekan pada aspek kontinuitas dan kualitas produk, maka pada PJP II  pemerintah  telah  menekankan  konsep sistem  agribisnis  pembangunan pertanian  (Badan  Agribisnis,1995  dan  saragih,1998  b) melalui  SK.Manteri Pertanian    R.I No.96/KPTS/OT.210/2/94,  tentang  pembentukan       badan agribisnis yang  mempunyai  tugas     pokok    melakukan  pembinaan    dan pengembangan agribisnis.  Pendekatan  agribisnis  lebih  menekankan            pada aspek  manajemen penguasaan  pasar  (kebutuhan  dan  harapan  konsumen) tentang kualitas dan kuantitas produk, daya saing dan penggunaan teknologi.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Pendapatan Dan Perkembangan Usahatani Bawang Merah (Allium Ascalonicum.L) Di Kabupaten Nganjuk (PRT-115)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembangunan di sektor pertanian merupakan salah satu hal yang penting yang  harus dilakukan  dalam  rangka  mensukseskan  pembangunan  nasional. Sektor pertanian merupakan  salah satu sektor penunjang yang sangat penting dari pembangunan ekonomi di Indonesia.

Pemerintah akhir-akhir ini menaruh perhatian yang sangat besar untuk mengembangkan komoditi yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Komoditas hortikultura telah mendapatkan perhatian tersendiri di samping tanaman pangan. Pengembangan komoditas  tersebut juga mendapatkan perhatian cukup penting di tingkat daerah khususnya di Jawa  Timur, sehingga perlu terus ditingkatkan untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi dan pendapatan mereka (Soekartawi, 1994).

Ekonomi Nganjuk merupakan ekonomi agraris yang ditunjukkan dengan lahan sebesar 35,13% untuk areal persawahan, 11,79% tegal, 0,21% perkebunan 39% hutan dan hanya 12,53% yang digunakan sebagai wilayah pemukiman. Sektor  pertanian  masih  merupakan sektor  dominan  di  Kabupaten  Nganjuk, terutama pertanian  tanaman pangan. Hal ini tercermin pada sumbangan sektor ini dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih sangat besar bila dibandingkan dengan sektor-sektor lain.



Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Penyuluh Pertanian Terhadap Kinerja Kelompok Tani (Studi Kasus Di Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang) (PRT-114)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian di Indonesia telah berkembang dengan pesat dan telah mencapai hasil yang memuaskan yaitu telah dicapainya swasembada pangan (beras) pada tahun  1984. Secara bertahap perhatian pemerintah dalam kegiatan penyuluhan telah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan petani serta titik berat penyuluhan   telah   bergeser   dari   budidaya  tanaman   kepada   manusia   yang membudidayakan tanaman tersebut yaitu petani. Berbagai pendekatan penyuluhan pertanian   yang   telah   dilaksanakan   di   Indonesia   antara   lain   :   pendekatan penyuluhan pertanian secara umum, secara komoditas, latihan dan kunjungan, partisipasi,  proyek,  sistem  usahatani,  sumber  dana  dan  secara  kelembagaan pendidikan (Suhardiyono, 1990).

Peran agen  penyuluhan  pertanian  adalah  membantu  petani  membentuk pendapat          yang       sehat dan membuat keputusan yang                baik dengan          cara berkomunikasi dan memberikan informasi yang mereka perlukan. Peran utama penyuluh dari  banyak negara pada massa lalu dipandang sebagai ahli teknologi dari peneliti ke petani.  Sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses  membantu  mereka  untuk  mengambil keputusan  sendiri  dengan  cara menambah pilihan-pilihan bagi mereka dan  menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut (Van den Ban dan  Hawkins, 1999).

Perencanaan penyuluhan pertanian di daerah di dasarkan atas kegiatan penyuluh,   bukan atas  dasar  kebutuhan  petani.  Dalam  sistem  desentralisasi, penyelenggaraan  penyuluhan pertanian  seharusnya  didasarkan  atas  kebutuhan lokal.   Para   petani   perlu   diberi  kesempatan   untuk   berperan   aktif   dalam memperbaiki             mutu penyuluhan pertanian sesuai dengan   kebutuhannya. Kemampuan          petani untuk          berubah sesuai     dengan                   perubahan             lingkungan masyarakat  kini  semakin  tinggi.   Begitu pula  dengan  kemampuannya  untuk menerapkan inovasi baru dibidang pertanian karena adanya perubahan teknologi yang terjadi pada masyarakat sekitarnya. (Harun, 1996)
Kesediaan             petani     bekerjasama          dengan   penyuluh pertanian akan memudahkan penyuluh pertanian dalam mentransfer program penyuluhan yang telah  ditetapkan. Kerjasama tersebut misalnya dalam bentuk, kesediaan petani untuk aktif dalam pertemuan, pembuatan rencana kelompok, pengadaan saprodi, pengendalian           hama       dan penyakit dengan           pengendalian        hama                terpadu, pemeliharaan  dan  pengelolaan  irigasi,  pemasaran  hasil  dan  kegiatan  yang diadakan oleh penyuluh pertanian  lainnya misalnya : diskusi, kursus, sarasehan dan lainnya (Anonymous, 2000).


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pengembangan Agribisnis kopi arabika di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan (PRT-107)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Jenis kopi yang pertama dimasukkan ke Indonesia adalah kopi arabika (Coffea arabica) tahun 1696 – 1699 yang menyebar ke P. Jawa.  Selama seabad kopi arabika merupakan satu-satunya komoditi komersiil yang ditanam Belanda di Indonesia.  Kemudian mengalami serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) tahun 1876, akibatnya kopi arabika hanya ditanam di daerah dengan ketinggian diatas 1.000 m dpl, dimana serangan penyakit karat daun tidak begitu menghebat.

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan sub sektor perkebunan yang mempunyai peranan cukup besar dalam menghasilkan devisa negara dan sumber pendapatan petani.   Devisa yang dihasilkan tahun 1995 mencapai 606.396 US $ dari ekspor sebanyak 230.201 ton kopi.  Sampai tahun 1996 luas pertanaman kopi di Indonesia mencapai 1.178.363 Ha dengan produksi 478.581 ton.  Dari total luas areal tersebut 1.120.147 Ha (95,06%) dikelola oleh rakyat sedangkan 25.616 Ha dikelola oleh Perkebunan Besar Negara dan 32.600 Ha oleh Perkebunan Besar Swasta.

Produksi kopi Indonesia didominasi kopi robusta (90%) padahal pangsa pasarnya tidak lebih 30%, sedang jenis kopi arabika yang dipasaran Internasional mempunyai pangsa pasar sekitar 70%, justru masih relatif sedikit ditanam, padahal harga jualnya relatif lebih tinggi.  Kopi arabika di Indonesia dengan luasan hanya 3,6% dari luas areal kopi, sedang ditinjau letak geografisnya adalah merupakan daerah potensi tanaman kopi robusta dan arabika.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Evaluasi Kinerja Proyek Pemberdayaan Petani dan Agribisnis (PPA 2001) dengan Pola Bantuan Langsung Masyarakat (PRT-111)


BAB I. 
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Sektor usaha pertanian (agribisnis) berperan besar dalam pembangunan baik secara langsung  terhadap pembentukan Product Domestic Bruto (PDB), penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, perolehan devisa melalui ekspor dan penciptaan ketahanan pangan nasional, maupun tidak langsung yaitu melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lainnya. 

Keberhasilan pembangunan pertanian berarti keberhasilan dalam membangun sebagian besar penduduk Indonesia, mengingat sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.   Kontribusi sektor agribisnis dalam pembangunan nasional sangat besar dibanding sektor yang lain.  Pada kurun waktu 1990 – 1995 PDB sektor agribisnis menyumbang nilai tambah (added value) yang signifikan dari 45 % menjadi 47 % ; menyerap tenaga kerja dari 75 % menjadi 77 %; ekspor sektor agribisnis dari 43 % menjadi 49 %.  Sektor agribisnis juga berperan adalam penyediaan pangan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok yaitu beras. Komoditas ini meru-pakan komoditas yang erat hubungannya dengan ketahanan pangan nasional, stabilitas ekonomi, katahanan sosial, stabilitas politik dan ketahanan nasional (Departemen Pertanian, 2002).

Mengingat pentingnya sektor agribisnis dalam pembangunan nasional, menuntut keberpihakan negara melalui Departemen Pertanian kepada rakyat petani yang porsinya besar dalam memberi penghidupan kepada rakyat.  Keberpihakan pemerintah  kepada petani sangat penting karena pembangunan pertanian dihadapkan pada berbagai tantangan seperti perubahan pemerintahan yang lebih demokratis dengan otonomi daerah, hak azazi manusia dan globalisasi.  Bersamaan dengan itu, perlu dukungan kebijakan makro serta regulasi pengaturan yang kondusif agar seluruh sub sistem agribisnis tanaman pangan dapat berfungsi secara harmonis dan optimal.  Peranan pemerintah adalah memobilisasi pelaku agribisnis dan mensinergiskan dengan kekuatan petani untuk dapat melakukan efisiensi usahatani, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian serta melakukan pemupukan modal (investasi). 

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Studi Karakteristik Fisik Lahan Pada Kebun Percobaan (Exferimental Farm) Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (PRT-169)

Bumi sebagai tempat kehidupan memiliki bentuk permukaan yang tidak sama pada setiap tempat. Hal ini terjadi akibat pengaruh dari luar maupun pengaruh dari dalam bumi.Bentuk permukaan bumi sangat tidak teratur. Ketidakteraturan ini memerlukan determinasi untuk merepresentasikan ukuran dan bentuknya.Penggambaran bentuk dan ukuran permukaan bumi merupakan bagian dari ilmu geodesi. Ada kalanya harus diketahui keadaan tinggi rendahnya suatu daerah guna pelaksanaan pekerjaan misalnya merencanakan letak bangunan-bangunan. Untuk mendapat bayangan yang terang tentang keadaan tinggi rendahnya suatu daerah digunakan garis-garis tinggi.

            Sebuah alasan penting mengapa sebidang tanah dihitung luasnya adalah karena ukuran luas dalam are atau foot persegi dimasukkan dalam akta tentang hak milik atas tanah. Tujuan lain untuk menentukan ukuran luas wilayah adalah seberapa luas permukaan harus diratakan, diperkeras, ditebari biji tanaman atau ditanami rumput. Dalam pengukuran tanah, ukuran luas dianggap sebagai proyeksi wilayah pada bidang horizontal. Metode pengukuran lapangan termasuk pembagian bidang menjadi bentuk-bentuk sederhana (segitiga, persegi panjang dan trapezium), (2) simpangan-simpangan dan garis lurus, (3) jarak meridian ganda dan (4) koordinat.

            Pada dasarnya tumbuhan yang tumbuh di atas lahan tergantung pada tanah karena tanah merupakan tempat tersedianya air dan unsur-unsur hara. Di samping itu, tanah harus menyediakan lingkungan supaya akar dapat berfungsi. Lingkungan ini memerlukan ruangan pori untuk perluasan akar. Oksigen harus tersedia untuk pernapasan akar dan karbondioksida yang dihasilkan harus didifusikan keluar dari tanah agar tidak  terakumulasi. Tiadanya faktor penghambat, seperti konsentrasi garam terlarut yang bersifat racun atau suhu yang ekstrem.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Komunitas Punk di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja (SO-13)

Pada masa kini dengan adanya globalisasi, banyak sekali kebudayaan yang masuk ke Indonesia, sehingga tidak dipungkiri lagi muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan tujuan atau senasib dari masing-masing individu maka muncullah kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat. Kelompok-kelompok sosial yang dibentuk oleh kelompok anak muda yang pada mulanya hanya dari beberapa orang saja kemudian mulai berkembang menjadi suatu komunitas karena mereka merasa mempunyai satu tujuan dan ideologi yang sama.

Salah satu dari kelompok tersebut yang akan kita bahas adalah kelompok “Punk”, yang terlintas dalam benak kita bagaimana kelompok tersebut yaitu dengan dandanan ‘liar’ dan rambut dicat dengan potongan ke atas dengan anting-anting. Mereka biasa berkumpul di beberapa titik keramaian pusat kota dan memiliki gaya dengan ciri khas sendiri. “Punk” hanya aliran tetapi jiwa dan kepribadian pengikutnya, akan kembali lagi ke masing-masing individu. Motto dari anak-anak “Punk” itu tersebut, Equality (persamaan hak) itulah yang membuat banyak remaja tertarik bergabung didalamnya. “Punk” sendiri lahir karena adanya persamaan terhadap jenis aliran musik “Punk” dan adanya gejalaperasaan yang tidak puas dalam diri masing-masing sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka dengan gaya hidup “Punk”.“Punk” yang berkembang di Indonesia lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan. Dengan gaya hidup yang anarkis yang membuat mereka merasa mendapat kebebasan. Namun kenyataannya gaya hidup “Punk” ternyata membuat masyarakat resah dan sebagian lagi menganggap dari gaya hidup mereka yang mengarah ke barat-baratan. Sebenarnya, “Punk” juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan ”kita dapat melakukan sendiri”

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Mempelajari Kelayakan Usahatani Pembibitan Sengon (Albizia Falcataria) (Studi Kasus Di Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo) (PRT-106)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang
Tanaman sengon ( Albizia falcataria ) merupakan jenis pohon yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo kususnya daerah - daerah Kecamatan Leces. Tanaman sengon biasanya kita jumpai pada areal pekarangan rumah, tegalan dan kanan kiri sungai dan tanaman sengon hampir selalu di libatkan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan pemanfaatan kayu.

Salah satu kelebihan tanaman sengon adalah pertumbuhanya cepat dan kegunaan kayunya sangat beragam dari mulai akar sampai pucuk daunya mempunyai kegunaan yang tidak kecil bagi kehidupan sehari-hari demikian juga dengan kayunya dapat di pergunakan sebagai bahan baku industri seperti bahan dasar kertas, kayu lapis bahan dasar triplek di mana di kabupaten Probolinggo perusahaan KTI Sangat membutuhkan bahan dasar kayu sengon.

Tanaman sengon memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan prospektif terbukti dengan permintaan kayu sengon yang terus meningkat selain itu tanaman sengon juga memiliki manfaat yang cukup besar dalam upaya merehabilitasi tanah kritis. Untuk upaya pemerintah khususnya (Departemen Kehutanan) melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kehutanan Dan Perkebunan telah lama mencanangkan Program " Sengonisasi " yang tiap tahunya di laksanakan di Kabupaten Probolinggo.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Kelompok Tani Pelestari Sumberdaya Alam Dalam Konservasi Dan Pemanfaatan Hutan (Studi di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang) (PRT-105)

BAB I
PENDAHULUAN 

1.1. LATAR BELAKANG
Dengan berhembusnya angin reformasi yang ditandai dengan jatuhnya kekuasaan orde baru pada tahun 1998,  maka berubahlah sistem pemerintahan di negara kita yang didorong oleh suara-suara dan tuntutan dari rakyat Indonesia akan pentingnya pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah, agar tidak terjadi kecemburuan antara Jakarta dan wilayah-wilayah yang nota benenya mempunyai potensi yang luar biasa dalam sumberdaya alamnya yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya yaitu kekayaan alam yang terdapat di daerah dikeruk oleh pemerintah pusat dengan sistem yang berlaku saat itu, sedangkan daerah tersebut hanya kebagian sebagian kecil saja dari kekayaan daerahnya. Karena itulah kemudian muncul suara-suara dari daerah yang menuntut adanya otonomi daerah. Dengan semakin gencarnya tuntutan tersebut dan juga untuk mengantisipasi semakin berkem-bangnya embrio disintegrasi maka DPR sebagai pemegang amanah rakyat beru-saha mendorong inisiatif desentralisasi dan otonomi daerah, yang selama beberapa tahun terakhir terus dikampanyekan oleh para akademisi dan kalangan Ornop sebagai upaya untuk semakin mendorong iklim demokrasi dan peningkatan kese-jahteraan masyarakat di daerah.

Namun peraturan yang telah disusun tersebut memberikan kesan menga-burnya semangat otonomi daerah yang tengah dikembangkan atau bisa disebut otonomi yang setengah hati. Ditambah lagi adanya peraturan sektoral yang masih sangat bersifat sentralistis. Daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam UU No. 22 th 1999 merupakan daerah yang berwenang dan berkewajiban untuk mengurusi sendiri urusan rumah tangganya selain beberapa urusan yang memang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Dengan demikian, selain urusan-urusan peme-rintahan, satu hal yang harus dilimpahkan atau harus menjadi urusan pemerintah dan masyarakat daerah adalah pengelolaan asset negara di daerah, seperti sumberdaya alam. Tanpa adanya kewenangan tersebut maka layaklah jika otonomi daerah di Indonesia disebut sebagai otonomi daerah yang setengah hati.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Cara Seo Blogger

Contoh Tesis Pendidikan