Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Beralihnya Tenaga Kerja Dari Sektor Pertanian Ke Sektor Non Pertanian (Studi Kasus di Desa Kebonagung Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang) (PRT-117)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 
Sasaran utama pembangunan itu adalah tercapainya suatu landasan yang kuat bagi  bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang menuju masyarakat yang  adil  dan  makmur  berdasarkan  Pancasila.  Dalam  rangka  pelaksanaan pembangunan jangka panjang pemerintah  menitik beratkan pada pembangunan dibidang ekonomi dengan sasaran utama mencapai keseimbangan antara pertanian dan  industri.  Agar  pembangunan  dapat  dicapai maka  pembangunan  itu  harus dilakukan  secara  bersama-sama  oleh  masyarakat  dan pemerintah.  Masyarakat merupakan komponen utama pembangunan, sedangkan pemerintah mempunyai tanggung  jawab  untuk  mengarahkan  dan  membimbing  agar cita-cita  nasional dapat dicapai. Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat harus dapat dukungan dari pemerintah.

Negara yang sedang berkembang biasanya menghadapi berbagai masalah antara  lain masalah  kemiskinan  dan  masalah  tenaga  kerja.  Masalah  ini  dapat timbul   karena  tingkat  pertumbuhan   penduduk   yang   sangat   besar.   Jumlah penduduk yang besar akan menjadi salah satu modal dasar pembangunan dan pendorong pembangunan apabila disertai dengan peningkatan kualitas penduduk. Angka pertumbuhan penduduk yang     tinggi    juga      dapat    menjadi beban pembangunan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri.

Indonesia  sebagai  salah  satu  negara  yang  sedang  berkembang,  laju pertumbuhan penduduk masih tinggi dan ini menjadi permasalahan dimasa yang akan  datang.  Keadaan ini  menyebabkan  besarnya  jumlah  penduduk,  struktur penduduk   usia   muda,   dan  tingkat   pengangguran   tinggi,   serta   penyebaran penduduk yang tidak sesuai dengan sumberdaya alamnya. Pertumbuhan penduduk Indonesia  yang  sangat  besar  tersebut  akan membuat  struktur  kependudukan Indonesia bertumpu pada usia muda. Struktur penduduk usia muda  memberikan gambaran besarnya angka beban ketergantungan yang tinggi.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Perbandingan Nilai Tambah Dan Keuntungan Berbagai Produk Olahan Pangan Pada Kube Teratai (Kelurahan Kraksaan Wetan Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo) (PRT-119)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
              Dalam pola dasar pembangunan Jawa Timur 2001-2005 disebutkan bahwa, misi utama pembangunan daerah Jawa Timur adalah mengembangkan perekonomian terpadu yang berorientasi global berbasis potensi daerah dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya alam yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, serta mampu memberdayakan ekonomi rakyat sehingga. Sektor    pertanian mampu menumbuhkan dan mengembangkan potensi ekonomi rakyat. Banyak bahan alami Indonesia khususnya tumbuhan yang mempuyai prospek   untuk dijadikan makanan tambahan atau dijadikan suatu produk olahan pangan. berpijak dari hal tersebut pembangunan pertanian ke depan diarahkan kepada pengembangan usaha agribisnis baik itu skala industri kecil ataupun besar yang mampu berdaya saing serta berkelanjutan

              Sejalan dengan hal tersebut, program peningkatan pertanian Jawa Timur difokuskan pada peningkatan ketahanan pangan berwawasan agribisnis, pemberdayaan ekonomi petani, peternak dan nelayan, serta peningkatan produksi dan daya saing komoditas ekspor (Imam Utomo, 2000). Ketiga hal tersebut saling terkait, dalam arti bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan yang berwawasan agribisnis dan peningkatan daya saing industri-industri kecil rumah tangga yang kontribusinya sangat besar untuk pengembangan ekonomi daerah, baik itu skala industri kecil atau menengah yang mampu memberi nilai tambah bagi suatu pengembangan  perekonomian daerah.   

             Pembangunan sektor pertanian untuk sangat ini lebih mengarah pada pola pengembangan industri agribisnis baik itu industri pengolahan pangan ataupun yang lebih mengarah pada pembinaan pengrajin atau pengusaha industri kecil dan menengah guna meningkatkan sumber daya manusia, dan meningkatkan kualitas hasil produksi serta peningkatan pelayanan informasi dan perijinan sektor industri kecil, dimana keberhasilan pelaksanaan pembangunan pemerintah dilaksanakan melalui program dan kegiatan pembangunan antara lain: pengembangan Industri Rumah Tangga (IKM), peningkatan kemampuan teknologi industri dan penataan struktural industri kecil. Oleh karena itu di Kabupaten Probolinggo tepatnya di Kecamatan Kraksaan dibentuklah suatu kelompok usaha bersama (KUBE) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya yang skala usahanya termasuk skala industri kecil serta pendirianya dipelopori oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Teratai.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Kelompok Tani Dalam Penyampaian Teknologi Baru Pada Petani Anggota Di Desa Boluroto Dan Banjarejo Kecamatan Manjarejo Kabupaten Blora (PRT-116)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dan dominan, hal ini ditunjukan  dengan banyaknya  penduduk  yang  tergantung  pada  pertanian. Namun  melihat  perkembangan yang  terjadi,  pertanian  di  Indonesia  belum maksimal. Mulai dari  input  yang  digunakan           sampai  output    yang dikeluarkanpun belum bisa diandalkan.

Keadaan  tersebut  banyak disebabkan oleh  berbagai  faktor,  mulai dari keputusan petani dalam menentukan komoditas, penggunaan faktor produksi, panen,  serta pasca panen yang masih tradisional. Selain itu pengetahuan dan pengalaman petani juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dari usaha tani yang dilaksanakan oleh petani.

Guna  menunjang  perkembangan  pertanian  perlu  diteruskan          dan disempurnakan  usaha penyuluhan   dan  pendidika pertanian,   juga   perlu dilanjutkan  perbaikan   dan  perluasan   prasarana,   pembukaan   lahan   baru, penyediaan  berbagai  sarana  prosuksi yang  memadai,  kemudian  penyediaan kredit dengan syarat yang tidak terlalu membebani bagi petani, serta penelitian dan  pemilika teknologi   yang  tepat,  yang  disebarkan keseluruh  daerah masyarakat petani ( Anonymous, 1988 ).

Untuk  mewujudkan  sasaran  pembangunan  pertanian  serta  merespon perkembangan  globalisasi   perekonomian   dan   tuntuta konsumen   yang semakin menekan pada aspek kontinuitas dan kualitas produk, maka pada PJP II  pemerintah  telah  menekankan  konsep sistem  agribisnis  pembangunan pertanian  (Badan  Agribisnis,1995  dan  saragih,1998  b) melalui  SK.Manteri Pertanian    R.I No.96/KPTS/OT.210/2/94,  tentang  pembentukan       badan agribisnis yang  mempunyai  tugas     pokok    melakukan  pembinaan    dan pengembangan agribisnis.  Pendekatan  agribisnis  lebih  menekankan            pada aspek  manajemen penguasaan  pasar  (kebutuhan  dan  harapan  konsumen) tentang kualitas dan kuantitas produk, daya saing dan penggunaan teknologi.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Pendapatan Dan Perkembangan Usahatani Bawang Merah (Allium Ascalonicum.L) Di Kabupaten Nganjuk (PRT-115)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembangunan di sektor pertanian merupakan salah satu hal yang penting yang  harus dilakukan  dalam  rangka  mensukseskan  pembangunan  nasional. Sektor pertanian merupakan  salah satu sektor penunjang yang sangat penting dari pembangunan ekonomi di Indonesia.

Pemerintah akhir-akhir ini menaruh perhatian yang sangat besar untuk mengembangkan komoditi yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Komoditas hortikultura telah mendapatkan perhatian tersendiri di samping tanaman pangan. Pengembangan komoditas  tersebut juga mendapatkan perhatian cukup penting di tingkat daerah khususnya di Jawa  Timur, sehingga perlu terus ditingkatkan untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi dan pendapatan mereka (Soekartawi, 1994).

Ekonomi Nganjuk merupakan ekonomi agraris yang ditunjukkan dengan lahan sebesar 35,13% untuk areal persawahan, 11,79% tegal, 0,21% perkebunan 39% hutan dan hanya 12,53% yang digunakan sebagai wilayah pemukiman. Sektor  pertanian  masih  merupakan sektor  dominan  di  Kabupaten  Nganjuk, terutama pertanian  tanaman pangan. Hal ini tercermin pada sumbangan sektor ini dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih sangat besar bila dibandingkan dengan sektor-sektor lain.



Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Penyuluh Pertanian Terhadap Kinerja Kelompok Tani (Studi Kasus Di Kecamatan Sukodono Kabupaten Lumajang) (PRT-114)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian di Indonesia telah berkembang dengan pesat dan telah mencapai hasil yang memuaskan yaitu telah dicapainya swasembada pangan (beras) pada tahun  1984. Secara bertahap perhatian pemerintah dalam kegiatan penyuluhan telah diarahkan untuk memenuhi kebutuhan petani serta titik berat penyuluhan   telah   bergeser   dari   budidaya  tanaman   kepada   manusia   yang membudidayakan tanaman tersebut yaitu petani. Berbagai pendekatan penyuluhan pertanian   yang   telah   dilaksanakan   di   Indonesia   antara   lain   :   pendekatan penyuluhan pertanian secara umum, secara komoditas, latihan dan kunjungan, partisipasi,  proyek,  sistem  usahatani,  sumber  dana  dan  secara  kelembagaan pendidikan (Suhardiyono, 1990).

Peran agen  penyuluhan  pertanian  adalah  membantu  petani  membentuk pendapat          yang       sehat dan membuat keputusan yang                baik dengan          cara berkomunikasi dan memberikan informasi yang mereka perlukan. Peran utama penyuluh dari  banyak negara pada massa lalu dipandang sebagai ahli teknologi dari peneliti ke petani.  Sekarang peranan penyuluhan lebih dipandang sebagai proses  membantu  mereka  untuk  mengambil keputusan  sendiri  dengan  cara menambah pilihan-pilihan bagi mereka dan  menolong mereka mengembangkan wawasan mengenai konsekuensi dari masing-masing pilihan tersebut (Van den Ban dan  Hawkins, 1999).

Perencanaan penyuluhan pertanian di daerah di dasarkan atas kegiatan penyuluh,   bukan atas  dasar  kebutuhan  petani.  Dalam  sistem  desentralisasi, penyelenggaraan  penyuluhan pertanian  seharusnya  didasarkan  atas  kebutuhan lokal.   Para   petani   perlu   diberi  kesempatan   untuk   berperan   aktif   dalam memperbaiki             mutu penyuluhan pertanian sesuai dengan   kebutuhannya. Kemampuan          petani untuk          berubah sesuai     dengan                   perubahan             lingkungan masyarakat  kini  semakin  tinggi.   Begitu pula  dengan  kemampuannya  untuk menerapkan inovasi baru dibidang pertanian karena adanya perubahan teknologi yang terjadi pada masyarakat sekitarnya. (Harun, 1996)
Kesediaan             petani     bekerjasama          dengan   penyuluh pertanian akan memudahkan penyuluh pertanian dalam mentransfer program penyuluhan yang telah  ditetapkan. Kerjasama tersebut misalnya dalam bentuk, kesediaan petani untuk aktif dalam pertemuan, pembuatan rencana kelompok, pengadaan saprodi, pengendalian           hama       dan penyakit dengan           pengendalian        hama                terpadu, pemeliharaan  dan  pengelolaan  irigasi,  pemasaran  hasil  dan  kegiatan  yang diadakan oleh penyuluh pertanian  lainnya misalnya : diskusi, kursus, sarasehan dan lainnya (Anonymous, 2000).


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pengembangan Agribisnis kopi arabika di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan (PRT-107)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Jenis kopi yang pertama dimasukkan ke Indonesia adalah kopi arabika (Coffea arabica) tahun 1696 – 1699 yang menyebar ke P. Jawa.  Selama seabad kopi arabika merupakan satu-satunya komoditi komersiil yang ditanam Belanda di Indonesia.  Kemudian mengalami serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) tahun 1876, akibatnya kopi arabika hanya ditanam di daerah dengan ketinggian diatas 1.000 m dpl, dimana serangan penyakit karat daun tidak begitu menghebat.

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan sub sektor perkebunan yang mempunyai peranan cukup besar dalam menghasilkan devisa negara dan sumber pendapatan petani.   Devisa yang dihasilkan tahun 1995 mencapai 606.396 US $ dari ekspor sebanyak 230.201 ton kopi.  Sampai tahun 1996 luas pertanaman kopi di Indonesia mencapai 1.178.363 Ha dengan produksi 478.581 ton.  Dari total luas areal tersebut 1.120.147 Ha (95,06%) dikelola oleh rakyat sedangkan 25.616 Ha dikelola oleh Perkebunan Besar Negara dan 32.600 Ha oleh Perkebunan Besar Swasta.

Produksi kopi Indonesia didominasi kopi robusta (90%) padahal pangsa pasarnya tidak lebih 30%, sedang jenis kopi arabika yang dipasaran Internasional mempunyai pangsa pasar sekitar 70%, justru masih relatif sedikit ditanam, padahal harga jualnya relatif lebih tinggi.  Kopi arabika di Indonesia dengan luasan hanya 3,6% dari luas areal kopi, sedang ditinjau letak geografisnya adalah merupakan daerah potensi tanaman kopi robusta dan arabika.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Evaluasi Kinerja Proyek Pemberdayaan Petani dan Agribisnis (PPA 2001) dengan Pola Bantuan Langsung Masyarakat (PRT-111)


BAB I. 
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Sektor usaha pertanian (agribisnis) berperan besar dalam pembangunan baik secara langsung  terhadap pembentukan Product Domestic Bruto (PDB), penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat, pengentasan kemiskinan, perolehan devisa melalui ekspor dan penciptaan ketahanan pangan nasional, maupun tidak langsung yaitu melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lainnya. 

Keberhasilan pembangunan pertanian berarti keberhasilan dalam membangun sebagian besar penduduk Indonesia, mengingat sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.   Kontribusi sektor agribisnis dalam pembangunan nasional sangat besar dibanding sektor yang lain.  Pada kurun waktu 1990 – 1995 PDB sektor agribisnis menyumbang nilai tambah (added value) yang signifikan dari 45 % menjadi 47 % ; menyerap tenaga kerja dari 75 % menjadi 77 %; ekspor sektor agribisnis dari 43 % menjadi 49 %.  Sektor agribisnis juga berperan adalam penyediaan pangan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok yaitu beras. Komoditas ini meru-pakan komoditas yang erat hubungannya dengan ketahanan pangan nasional, stabilitas ekonomi, katahanan sosial, stabilitas politik dan ketahanan nasional (Departemen Pertanian, 2002).

Mengingat pentingnya sektor agribisnis dalam pembangunan nasional, menuntut keberpihakan negara melalui Departemen Pertanian kepada rakyat petani yang porsinya besar dalam memberi penghidupan kepada rakyat.  Keberpihakan pemerintah  kepada petani sangat penting karena pembangunan pertanian dihadapkan pada berbagai tantangan seperti perubahan pemerintahan yang lebih demokratis dengan otonomi daerah, hak azazi manusia dan globalisasi.  Bersamaan dengan itu, perlu dukungan kebijakan makro serta regulasi pengaturan yang kondusif agar seluruh sub sistem agribisnis tanaman pangan dapat berfungsi secara harmonis dan optimal.  Peranan pemerintah adalah memobilisasi pelaku agribisnis dan mensinergiskan dengan kekuatan petani untuk dapat melakukan efisiensi usahatani, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian serta melakukan pemupukan modal (investasi). 

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Studi Karakteristik Fisik Lahan Pada Kebun Percobaan (Exferimental Farm) Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (PRT-169)

Bumi sebagai tempat kehidupan memiliki bentuk permukaan yang tidak sama pada setiap tempat. Hal ini terjadi akibat pengaruh dari luar maupun pengaruh dari dalam bumi.Bentuk permukaan bumi sangat tidak teratur. Ketidakteraturan ini memerlukan determinasi untuk merepresentasikan ukuran dan bentuknya.Penggambaran bentuk dan ukuran permukaan bumi merupakan bagian dari ilmu geodesi. Ada kalanya harus diketahui keadaan tinggi rendahnya suatu daerah guna pelaksanaan pekerjaan misalnya merencanakan letak bangunan-bangunan. Untuk mendapat bayangan yang terang tentang keadaan tinggi rendahnya suatu daerah digunakan garis-garis tinggi.

            Sebuah alasan penting mengapa sebidang tanah dihitung luasnya adalah karena ukuran luas dalam are atau foot persegi dimasukkan dalam akta tentang hak milik atas tanah. Tujuan lain untuk menentukan ukuran luas wilayah adalah seberapa luas permukaan harus diratakan, diperkeras, ditebari biji tanaman atau ditanami rumput. Dalam pengukuran tanah, ukuran luas dianggap sebagai proyeksi wilayah pada bidang horizontal. Metode pengukuran lapangan termasuk pembagian bidang menjadi bentuk-bentuk sederhana (segitiga, persegi panjang dan trapezium), (2) simpangan-simpangan dan garis lurus, (3) jarak meridian ganda dan (4) koordinat.

            Pada dasarnya tumbuhan yang tumbuh di atas lahan tergantung pada tanah karena tanah merupakan tempat tersedianya air dan unsur-unsur hara. Di samping itu, tanah harus menyediakan lingkungan supaya akar dapat berfungsi. Lingkungan ini memerlukan ruangan pori untuk perluasan akar. Oksigen harus tersedia untuk pernapasan akar dan karbondioksida yang dihasilkan harus didifusikan keluar dari tanah agar tidak  terakumulasi. Tiadanya faktor penghambat, seperti konsentrasi garam terlarut yang bersifat racun atau suhu yang ekstrem.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Komunitas Punk di Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja (SO-13)

Pada masa kini dengan adanya globalisasi, banyak sekali kebudayaan yang masuk ke Indonesia, sehingga tidak dipungkiri lagi muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok-kelompok tersebut muncul dikarenakan adanya persamaan tujuan atau senasib dari masing-masing individu maka muncullah kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat. Kelompok-kelompok sosial yang dibentuk oleh kelompok anak muda yang pada mulanya hanya dari beberapa orang saja kemudian mulai berkembang menjadi suatu komunitas karena mereka merasa mempunyai satu tujuan dan ideologi yang sama.

Salah satu dari kelompok tersebut yang akan kita bahas adalah kelompok “Punk”, yang terlintas dalam benak kita bagaimana kelompok tersebut yaitu dengan dandanan ‘liar’ dan rambut dicat dengan potongan ke atas dengan anting-anting. Mereka biasa berkumpul di beberapa titik keramaian pusat kota dan memiliki gaya dengan ciri khas sendiri. “Punk” hanya aliran tetapi jiwa dan kepribadian pengikutnya, akan kembali lagi ke masing-masing individu. Motto dari anak-anak “Punk” itu tersebut, Equality (persamaan hak) itulah yang membuat banyak remaja tertarik bergabung didalamnya. “Punk” sendiri lahir karena adanya persamaan terhadap jenis aliran musik “Punk” dan adanya gejalaperasaan yang tidak puas dalam diri masing-masing sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka dengan gaya hidup “Punk”.“Punk” yang berkembang di Indonesia lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan. Dengan gaya hidup yang anarkis yang membuat mereka merasa mendapat kebebasan. Namun kenyataannya gaya hidup “Punk” ternyata membuat masyarakat resah dan sebagian lagi menganggap dari gaya hidup mereka yang mengarah ke barat-baratan. Sebenarnya, “Punk” juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan ”kita dapat melakukan sendiri”

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Mempelajari Kelayakan Usahatani Pembibitan Sengon (Albizia Falcataria) (Studi Kasus Di Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo) (PRT-106)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar belakang
Tanaman sengon ( Albizia falcataria ) merupakan jenis pohon yang tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Probolinggo kususnya daerah - daerah Kecamatan Leces. Tanaman sengon biasanya kita jumpai pada areal pekarangan rumah, tegalan dan kanan kiri sungai dan tanaman sengon hampir selalu di libatkan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan pemanfaatan kayu.

Salah satu kelebihan tanaman sengon adalah pertumbuhanya cepat dan kegunaan kayunya sangat beragam dari mulai akar sampai pucuk daunya mempunyai kegunaan yang tidak kecil bagi kehidupan sehari-hari demikian juga dengan kayunya dapat di pergunakan sebagai bahan baku industri seperti bahan dasar kertas, kayu lapis bahan dasar triplek di mana di kabupaten Probolinggo perusahaan KTI Sangat membutuhkan bahan dasar kayu sengon.

Tanaman sengon memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan prospektif terbukti dengan permintaan kayu sengon yang terus meningkat selain itu tanaman sengon juga memiliki manfaat yang cukup besar dalam upaya merehabilitasi tanah kritis. Untuk upaya pemerintah khususnya (Departemen Kehutanan) melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kehutanan Dan Perkebunan telah lama mencanangkan Program " Sengonisasi " yang tiap tahunya di laksanakan di Kabupaten Probolinggo.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Kelompok Tani Pelestari Sumberdaya Alam Dalam Konservasi Dan Pemanfaatan Hutan (Studi di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang) (PRT-105)

BAB I
PENDAHULUAN 

1.1. LATAR BELAKANG
Dengan berhembusnya angin reformasi yang ditandai dengan jatuhnya kekuasaan orde baru pada tahun 1998,  maka berubahlah sistem pemerintahan di negara kita yang didorong oleh suara-suara dan tuntutan dari rakyat Indonesia akan pentingnya pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah, agar tidak terjadi kecemburuan antara Jakarta dan wilayah-wilayah yang nota benenya mempunyai potensi yang luar biasa dalam sumberdaya alamnya yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya yaitu kekayaan alam yang terdapat di daerah dikeruk oleh pemerintah pusat dengan sistem yang berlaku saat itu, sedangkan daerah tersebut hanya kebagian sebagian kecil saja dari kekayaan daerahnya. Karena itulah kemudian muncul suara-suara dari daerah yang menuntut adanya otonomi daerah. Dengan semakin gencarnya tuntutan tersebut dan juga untuk mengantisipasi semakin berkem-bangnya embrio disintegrasi maka DPR sebagai pemegang amanah rakyat beru-saha mendorong inisiatif desentralisasi dan otonomi daerah, yang selama beberapa tahun terakhir terus dikampanyekan oleh para akademisi dan kalangan Ornop sebagai upaya untuk semakin mendorong iklim demokrasi dan peningkatan kese-jahteraan masyarakat di daerah.

Namun peraturan yang telah disusun tersebut memberikan kesan menga-burnya semangat otonomi daerah yang tengah dikembangkan atau bisa disebut otonomi yang setengah hati. Ditambah lagi adanya peraturan sektoral yang masih sangat bersifat sentralistis. Daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam UU No. 22 th 1999 merupakan daerah yang berwenang dan berkewajiban untuk mengurusi sendiri urusan rumah tangganya selain beberapa urusan yang memang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Dengan demikian, selain urusan-urusan peme-rintahan, satu hal yang harus dilimpahkan atau harus menjadi urusan pemerintah dan masyarakat daerah adalah pengelolaan asset negara di daerah, seperti sumberdaya alam. Tanpa adanya kewenangan tersebut maka layaklah jika otonomi daerah di Indonesia disebut sebagai otonomi daerah yang setengah hati.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pengembangan Usaha Jamur Merang Pada Kelompok Tani Mancilan Purworejo Pasuruan (PRT-108)

PENDAHULUAN 

1.1   Latar Belakang.
Jamur merang ( Volvariella Valvacea ) merupakan salah satu komoditas sayuran tunas yang mempunyai masa depan baik untuk dikembangkan. Hingga kini sudah semakin banyak orang yang mengetahui nilai gizi jamur merang dan manfaatnya bagi kesehatan manusia. Dilain fihak produksi jamur merang di Indonesia sangat terbatas sehingga nilai ekonomi jamur merang semakin meningkat. ( Sinaga, 2000).
Budidaya jamur merang tergolong sangat mudah, tidak membutuhkan lahan yang luas, bebas pestisida dan ramah lingkungan. Jamur merang dapat dipanen 10 hari setelah tebar bibit, dalam 1 (satu) proses produksi dapat panen 10-15 kali. Suhu kompos yang diperlukan untuk pertumbuhan jamur merang antara 35 – 38 C, dengan kelembaban 95 – 98% (Anonim, 2003).
Jamur merang sebagai salah satu jenis pilihan Usaha Agribisnis memiliki potensi untuk dikembangkan, bahkan layak diusulkan menjadi sektor unggulan yang akan memperkuat struktur ekonomi. Alasannya, (a) Sumberdaya alam menyediakan bahan baku melimpah, (b) Sumber Daya Manusia (SDM) bersifat padat karya dan berbasis sumberdaya lokal yang kuat serta (c) Tidak memerlukan komponen luar negeri.
Jamur merang banyak mengandung protein nabati, serta unsur mikro nutrisi lainnya yang banyak dibutuhkan untuk menjaga kesehatan dan kesegaran. Dalam 100 gram jamur merang terdapat kandungan gizi sebagai berikut : Protein 2,68%, Lemak  2,24%, Karbohidrst 2,6%, Vitamin C 206 Cal, Calcium 0,75%, Fosfor 30,6% dan Kalium 44,1%. Sedangkan manfaat jamur merang adalah, (a) menghambat pertumbuhan sel tumor, (b) meningkatkan sistim kekebalan tubuh dan (c) Menurunkan kadar kolesterol dalam plasma darah dan hati.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Perbedaan Pendapatan Petani Sistim Tanam Tabela Dengan Sistim Tanam Pindah Di Kabupaten Bangkalan (PRT-112)

I. PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang banyak menyandarkan kehidupan pada kebutuhan masyarakatnya dari sektor pertanian. Oleh karena itu pembangunan pertanian merupakan syarat mutlak untuk melaksanakan pembangunan perekonomian negara. Pembangunan pertanian bertujuan untuk mempertinggi produksi dan pendapatan petani sebagai langkah yang terarah untuk mencapai kemakmuran. Pembangunan pertanian dilakukan melalui suatu usaha dengan strategi yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu program peningkatan pendapatan petani. Hal ini disebabkan pendapatan masyarakat di sektor pertanian masih rendah. Padahal sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian (Soehardjo dan Patong, 1993 : 2).

Titik berat pembangunan jangka panjang adalah pembangunan bidang ekonomi dengan sasaran utama untuk mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri serta terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani dan memperluas lapangan kerja.

Ada dua (2) cara tambahan untuk mempercepat pembangunan pertanian, yaitu ; pertama, memperbaiki mutu tanah yang telah menjadi usahatani, misalnya dengan pupuk, irigasi, pengaturan sistem tanam ; kedua, mengusahakan tanah baru, misalnya pembukaan petak–petak sawah baru (Arsyad, 1992 : 281).

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Motivasi Instrinsik Dan Motivasi Ekstrinsik Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai Pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara Dan Lelang Makasar (MS-30)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
            Istilah motivasi ( motivation ) berasal dari bahasa latin yaitu Movere, yang berarti “ menggerakkan “ ( To Move ). Teori yang dikembangkannya oleh Hezberg dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik.

        Salah satu kantor vertikal yang berada di bawah nanungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan adalah Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Piutang negara yang dikelola oleh KPKNL adalah piutang negara yang tidak dilunasi oleh penerima kredit, dan untuk menentukan piutang itu macet adalah sejak tidak ditepatinya/dipenuhinya piutang dan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalam perjanjian kredit. Piutang negara yang telah macet harus segera diserahkan penyelesaiannya pada KPKNL, jika tidak maka pihak KPKNL berhak mengambil alih kasus piutang tersebut. KPKNL dalam hal ini mempunyai kewenangan karena undang-undang yang berlaku dan adanya  kewenangan yang diberikan oleh pihak kreditur untuk dapat menyelesaikan kredit macet dengan berdasarkan perjanjian kredit dengan jaminan hak tanggungan.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pemakaian Kondom Di Lokalisasi Guyangan Kabupaten Nganjuk (MS-29)

BAB  I 
P E N D A H U L U A N

1.1.          Latar Belakang Masalah
Barang kali sudah banyak yang tahu kalau prostitusi sudah lama ada didunia ini, bahkan banyak orang yang menyitir bahwa pelacur adalah salah satu profesi yang tertua didunia. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pelacuran sekarang ini antara lain alasan ekonomi, mundurnya usia perkawinan, meningkatnya angka perceraian dan sebagainya. Berbarengan dengan kegiatan prostitusi tersebut penyakit kelamin menjadi salah satu efek samping yang harus ditanggung, sehingga penyakit kelamin boleh dikatakan penyakit yang paling mahal atau paling tidak paling dicari-cari karena untuk mendapatkannyapun orang harus membayar. 

Di Kabupaten Nganjuk, lokalisasi prostitusi yang resmi ada  di Guyangan, Kecamatan Bagor yang letaknya kurang lebih 6 km sebelah barat laut pusat kota. Hasil skrining Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk pada tahun Januari 2003 menunjukkan bahwa dari  258 PSK (Pekerja Seks Komersial) yang ada di lokalisasi Guyangan 26 persen diantaranya menderita penyakit menular seksual (PMS) yaitu penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Para PSK ini dapat menularkan kepada lebih dari satu orang pelanggan tergantung dari berapa banyak pelanggan yang berhubungan dengannya yang pada gilirannya dapat juga menular kepada istri yang baik-baik, kemudian sang istri bisa menularkan lagi kepada bayi yang baru dilahirkan melalui proses persalinan, akibatnya orang yang tidak bersalahpun akan menanggung akibatnya. Meskipun tidak mungkin semata-mata menyalahkan para PSK karena mereka ada akibat “permintaan pasar” tetapi barangkali cara yang paling mudah untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit menular seksual ini adalah dengan mengintervensi para PSK ini karena mereka terlokalisir sehingga mudah dicari dan mudah pula diberi petunjuk. Mereka juga terorganisir baik oleh para mucikarinya maupun oleh “RT/RW” nya disamping itu tidak tabu bagi mereka untuk membicarakan masalah seksual, hal sebaliknya terjadi pada “pelanggan”nya.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Cara Seo Blogger

Contoh Tesis Pendidikan