Rumah Susun Sederhana Sewa Sudin Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat Di Jakarta Barat (TA-4)

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.  Latar Belakang
Persoalan temp at tinggal masih menjad i masalah p elik bagi p enduduk di kota besar sep erti Jakarta. M enurut data kep endudukan, p ada tahun 1930 p enduduk Jakarta y ang berjumlah  533.000  jiwa bertambah  menjadi 837.083  jiwa p ada tahun  2002. Khusus  di daeraJakarta Baratcatatasip il Kotamady a Jakarta Barat  mencatat, dengan luas sebesar 122,52 km2, kep adatan p enduduk p ada bulan Januari tahun 2008mencap ai 13.348 jiwa p er km2.

Kondisi p erumahan  dan  p emukiman  adalasalasatu  bidan g y an g p erlu ditangan i secara serius, karen a p erumahan dan p emukiman memiliki p eran strategis sebagai  p usat p endidikan  keluarga,  p ersemaian  buday a,  dan  p eningkatan  kualitas gen erasi y ang akan datan g serta merup akan p engejawantahan d iri.
Prof.  IR.  Eko  Budihard jo,  M .Sc.  dalam bukuny a Arsitektur  dan  Kota  di Indonesia meny atakan b ahwa salah satu usaha p eremajaan  kota y ang p alin g besar adalah  den gan  p emban gunan  rumasusun.  Ide d asarny a adalah  merub ah  kondisi p emukiman kumuh di kota y ang p adat p enduduk atau dikenal dengan istilah urban renewal. Dr.Soed joko p ada diskusi p anelPendid ikan Arsitektur M eny ongsong Tahun 2000” , mengatakan bahwa sewajarny alah ban gun an-ban gunan di Indonesia tidak lagi diban gun  secara tidur  menutup i p ermukaan  bumitetap i harus  diberdirikan atau dibuat susun keatas agar tersisa ruan g terbuka y ang cukup lega untuk bernap as.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Tingkat Konsumsi Energi Dan Konsumsi Protein Serta Hubungannya Dengan Status Gizi Anak Asuh Usia 10-18 Tahun (Studi Pada Penyelenggaraan Makanan Di Panti Asuhan Pamardi Putra Kabupaten Demak) Tahun 2005 (POL-12)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor utama yang diperlukan dalam melaksanakan pembangunan nasional. Untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut maka harus dilakukan upaya-upaya yang saling berkesinambungan. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas SDM, faktor kesehatan dan gizi memegang peranan penting, karena orang tidak akan dapat mengembangkan kapasitasnya secara maksimal apabila yang bersangkutan tidak memiliki status kesehatan dan gizi yang optimal (Depkes, 2001: 1).

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Contoh Skripsi Teknik Mesin

Teknik Mesin adalah adalah cabang ilmu teknik/ rekayasa yang mempelajari energi dan sumber energinya serta aplikasi dari prinsip fisika untuk analisa, desain, manufaktur dan pemeliharaan sebuah sistem mekanik. Teknik Mesin merupakan salah satu bidang ilmu keteknikan yang dapat memberikan peluang besar untuk mewujudkan industri mesin baik dalam hal maintance dan repair, perancangan/design, pembuatan/ produksi serta sistem lingkungan di masa depan. Profesi ini sangat ditunjang oleh intelektual yang tinggi, kreatif dan daya inovatif.


Mahasiswa Teknik Mesin selain harus dapat menguasai dasar dari ilmu pasti (matematika, fisika, kimia), mereka juga harus memahami berbagai konsep termasuk mekanika, kinematika, termodinamika dan energi. Bidang kajian dalam Teknik Mesin banyak berurusan dengan penggerak-penggerak awal, seperti turbin uap, motor bakar, mesin-mesin perkakas, pompa dan kompresor, pendingin dan pemanas, dan alat-alat kimia tertentu. Selain itu, dalam Teknik Mesin juga dipelajari sifat fisis dan fenomena yang terjadi pada suatu bahan. Hal ini termasuk sifat bahan dalam menyangga tarikan, tekanan, atau puntiran.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

STUDI STABILITAS TRANSIENT SISTEM TENAGA LISTRIK DENGAN METODE KRITERIA LUAS SAMA MENGGUNAKAN MATLAB (TE-01)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Listrik adalah bentuk energi sekunder yang paling praktis penggunaanya oleh manusia, dimana listrik dihasilkan dari proses konversi energi sumber primer seperti batubara, minyak bumi, gas, panas bumi, potensial air dan energi angin.


Kebutuhan listrik di masyarakat semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pemanfaatan tenaga listrik pada peralatan-peralatan rumah tangga, kantor dan sebagainya, sehingga pasokan listrik harus ditambah yakni dengan pembangunan pembangkit listrik baru.

Selain tersedianya pembangkitan yang cukup, hal lain yang juga harus ditentukan adalah apakah kondisi transient jika terjadi gangguan akan mengganggu operasi normal sistem atau tidak. Hal ini akan berhubungan dengan kualitas listrik yang sampai ke konsumen berupa kestabilan frekuensi dan tegangan.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Hubungan Antara Status Gizi Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Wilayah Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang Tahun 2006 (IKS-3)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Lembaga Demografi Universitas Indonesia tahun 1985 memperkirakan jumlah lansia di Indonesia dewasa ini mencapai 15 juta jiwa atau sekitar 7,5% dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 19,9 juta jiwa atau sekitar 8,48% dari jumlah penduduk. Jumlah ini akan meningkat lagi pada tahun 2020 menjadi 28,8 juta jiwa atau sekitar 11,34% dari seluruh populasi. Peningkatan jumlah usia lanjut diperkirakan diikuti dengan peningkatan usia harapan hidup dari 59,8 tahun pada tahun 1990 menjadi 71,1 tahun pada tahun 2020 (Depkes RI 2003:1).


Berbagai pihak menyadari bahwa jumlah warga lansia di Indonesia yang semakin bertambah akan membawa pengaruh besar dalam pengelolaan masalah kesehatannya. Golongan usia lanjut ini akan memberikan masalah kesehatan khusus yang membutuhkan pelayanan kesehatan tersendiri mulai dari gangguan mobilitas alat gerak sampai pada gangguan jantung (M.N.Bustan 1997:114).

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN DENGAN PEMANFATAN KARTU SEHAT OLEH GAKIN DI DESA TENGARAJA PADA PELAYANAN PUSKESMAS (IKS-02)

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan yang optimal. Untuk melaksanakan hal tersebut telah dirumuskan 6 program pokok pembangunan kesehatan yang salah satunya adalah perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat. Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan masyarakat (Depkes RI, 2002:18).

Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia WHO (1948) dalan Depkes RI (2005: 15), Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap warga. Setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggung jawab mengatur agar masyarakat terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PENGEMUDI TAKSI BLUE BIRD GROUP POOL WARUNG BUNCIT JAKARTA SELATAN (IKS-01)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam sebuah laporan berita di beberapa media komunikasi beberapa bulan lalu, di tuliskan bahwa saat ini, Indonesia merupakan negara dengan standar keselamatan dan kesehatan kerja terburuk jika bandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, berita tersebut di laporkan oleh ILO atau Humas Organisasi Buruh Dunia dalam peringatan hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja, hal ini dikemukakan berdasarkan tragedi kecelakaan akibat kerja yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu, dimana tragedi tersebut sedikitnya telah menyebabkan empat orang meninggal dan lebih dari 50 luka-luka akibat ledakan yang menghancurkan pabrik petrokimia serta adanya ledakan dan kebakaran lainnya di pabrik-pabrik gas dan metal 1.


Begitu pula dengan status keselamatan dan kesehatan kerja transportasi di Indonesia, sebagai negara yang berpeluang besar untuk berkembang, tercatat kecelakaan transportasi darat di Indonesia juga sangat menonjol, hal ini dinyatakan melalui data kecelakaan lalu lintas yang pada tahun 1998 saja membawa korban 11.778 orang tewas.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Common Strategic Competence Employed By Senior High School Debaters (PBING-16)

CHAPTER I INTRODUCTION

1.1 Background of the Study

English debate is nowadays widely known among senior high school students especially in Semarang. This activity has been something popular for its image among both students and English teachers. They think of this activity as something outstanding. This thought may appear due to the fact that not many students of senior high school are able to do so. Only those who are at least capable in producing oral communication in English will be chosen as debater. Referring to this assumption, it is no wonder that the number of English debaters is not of great significance compared with the whole number of students in general.



The effort of facilitating this great potential has been done. It is proven that many competitions among high schools and vocational schools have been conducted recently. In fact, this effort gains so much attention and respect from several parties. They are students as the agent, teachers as the supporters, and frequently may collaborate with the government as the facilitator through Department of Education to present debate competitions. The question that may arise upon this notion is how it gains such great attention.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Teaching Procedure Written Text Of Cooking Recipe Using Sequence Pictures (An Action Research On The Seventh Degree Of Junior High School (PBING-13)

CHAPTER I INTRODUCTION

This chapter is divided into six sub sections. They are background of the study, reason for choosing the study, research question, purpose of the expected result of the study, significant of the study, limitation of the problem, and outline of the final project.




Teaching is not an easy job but it is a necessary one and can be very rewarding when we see our students’ progress and know that we have helped to make it happen. It is true that some lessons can be difficult and students feel stressful at times but it is also worth remembering that the best teaching can also be extremely enjoyable.
Based on the concept and function of English as stated in the 2006



Competence-Based Curriculum which has similar principle with Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) for SMP/MTS, the teaching-learning of English has the purpose to develop four language skills; listening, speaking, reading and writing. The other English language components; vocabulary, structure and pronunciation (in speech) or spelling (in writing) are also important to be taught to support the development of four language skills. It means that English teacher should teach the four aspects. It is not only reading or speaking but also listening and writing so the students can master all these skills.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

PENGARUH PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH MANBAIL FUTUH BEJI – JENU –(PAI-02)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum berasal dari bahasa Inggris “Curriculum” berarti Rencana Pelajaran. (S. Wojowasito-WJS. Poerwadarminta, 1980 : 36.).
Secara istilah, kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Depag. RI. Dir. Jen. Kelembagaan Agama Islam, 2004 : 2).
Dari pengertian tersebut kurikulum sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar mengajar disekolah, yang merupakan jembatan untuk tercapainya suatu tujuan Pendidikan Nasional.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

ANAK PUTUS SEKOLAH DAN CARA PEMBINAANNYA DI KECAMATAN JANGKA KABUPATEN BIREUEN (PAI-01)

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan amanah dari Allah Swt, seorang anak dilahirkan dalam keadaan fitrah tanpa noda dan dosa, laksana sehelai kain putih yang belum mempunyai motif dan warna. Oleh karena itu, orang tualah yang akan memberikan warna terhadap kain putih tersebut; hitam, biru hijau bahkan bercampur banyak warna.


Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya cerdas, berwawasan luas dan bertingkah laku baik, berkata sopan dan kelak suatu hari anak-anak mereka bernasib lebih baik dari mereka baik dari aspek kedewasaan pikiran maupun kondisi ekonomi. Oleh karena itu, di setiap benak para orang tua bercita-cita menyekolahkan anak-anak mereka supaya berpikir lebih baik, bertingkah laku sesuai dengan agama serta yang paling utama sekolah dapat mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang kesuksesan sesuai dengan profesinya.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Peranan Orang Tua Dalam Membina Kecerdasan Spiritual Anak Dalam Keluarga (PAI-5)

BAB I 
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Anak merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga  dan dibina, hatiny yang   suc adala permata   yang   sanga maha harganya Jika dibiasakan pada  kejahatan dan  dibiarkan  seperti  dibiarkannya  binatang,  ia akan  celaka  dan  binasa.  Sedangkan memeliharanya  adalah  dengan  upaya pendidikan dan mengajarinya akhlak yang baik. Oleh karena itu orang tualah yang memegang faktor kunci yang bisa menjadikan anak tumbuh dengan jiwa Islami sebagaimana sabda Rasulullah:

Artinya: Telah  menyampaikan  kepada  kami  Adam,  telah  menyampaikan kepada  kami  Abi  Zibin  dari  Az-Zuhri  dari  Abi  Salamah  bin Abdirrahman   dar AbHurairah   R. ia   berkata:   Bersabda Rasulullah  SAW:   Setiap  anak  dilahirkan  diatas fitrahnya  maka kedua   orang   tuanyala yang   menjadikanny seorang   Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (Hadis riwayat Bukhari)


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Efisiensi Usahatani Tanaman Sengon Laut (Albazia falcataria) (Studi di Desa Pondok Agung Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang) (PRT-102)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Hutan, tanah dan air merupakan kekayaan alam yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada makluk di bumi ini, tidak saja memberikan manfaat bagi kehidupan sekarang tetapi juga nanti. Pengelolaan akan hutan tanah dan air tidak saja dengan kebijaksanaan dalam hal penggunaan tetapi juga dengan manajemen pemeliharaan yang berkesinambungan sehingga akan didapatkan kondisi hutan yang penuh dengan keseimbangan ekosistem yang akan memberikan dampak bagi kehidupan manusia baik dari segi kelestarian lingkungan atau sektor ekonomi.

 Tanaman sengon atau dalam bahasa latinnya disebut Albazia falcataria telah cukup lama dikenal masyarakat luas terutama di Kabupaten Probolinggo. Jenis pohon ini biasanya ditanam di kebun, pekarangan rumah, pagar dan lahan – lahan kosong dalam rangka pemanfaatan lahan.

Pohon sengon dapat pula ditanam sekaligus sebagai tanaman pelindung atau naungan untuk tanaman kopi, coklat dan lain – lain serta sebagai tanaman tanda batas pada pemilikan kebun dan pekarangan yang sekaligus dapat dipetik hasilnya. Hasil kayu dipakai untuk bahan bangunan pembuatan peti atau sebagai kayu bakar baik untuk pembakaran gamping maupun pengopenan tembakau. Meskipun demikian, kegunaan kayu sengon sekarang sudah berubah yaitu karena adanya kemajuan di bidang teknologi dan industri, maka telah menempatkan kayu sengon tidak hanya untuk pembuatan peti saja akan tetapi sebagai bahan baku industri yang penting yaitu sebagai bahan baku pulp untuk pabrik kertas dan kayu olahan untuk ekspor dengan nilai tambah yang tinggi. Dengan fungsi dan kegunaan yang cukup banyak maka akibatnya permintaan semakin tinggi dengan harganya yang standar jual.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Usaha Padi Sawah Dengan Menggunakan Urea Tablet Studi Di Desa …r Kecamatan … Kabupaten …(PRT-85)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Pangan khususnya beras merupakan kebutuhan dasar bagi manusia yang harus terpenuhi setiap saat dan setiap tempat dalam jumlah yang cukup dengan mutu yang baik serta dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat.
Upaya pemantapan pelestarian swasembada beras yang telah dicapai Indonesia pada tahun 1984 semakin berat sejalan dengan peningkatan kebutuhan beras di Indonesia akibat peningkatan jumlah penduduk dan adanya perubahan pola menu makanan masyarakat dari non beras ke beras seiring dengan adanya perbaikan ekonomi masyarakat.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997, ketergantungan akan produk impor beras pada tahun 2000 mencapai 550.514 ton dengan nilai 131.132.613 USD atau setara dengan 1,28 triliun rupiah.
Rumusan revitalisasi Pembangunan Pertanian tahun 2006 – 2010 menyatakan bahwa kebijakan operasional yang akan ditempuh adalah Peningkatan Ketahanan Pangan yang berbasis pada keragaman sumber daya bahan pangan, Kelembagaan dan Budaya Lokal. Sedangkan menurut Rencana Strategik Kabupaten Jember tahun 2006 dalam mendukung Program Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional tetap  diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan swasembada beras yang telah dicapai secara dinamis melalui upaya meningkatkan mutu intensifikasi dengan penerapan teknologi produksi berupa pemupukan yang ditekankan pada takaran, ramuan, dan cara berdasarkan spesifik lokalita yang dapat meningkatkan produktifitas lahan sawah.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Efisiensi Usahatani Jagung ( Zea Mays L ) dengan Menggunakan Benih Hibrida ( Studi di Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember ) (PRT-100)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Sektor pertanian telah dan terus dituntut berperan dalam perekonomian nasional melalui pembentukan Produksi Domestik Bruto (PDB), sumber devisa melalui ekspor, penyediaan pangan dan penyediaan bahan baku industri, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat. Selain kontribusi langsung, sektor pertanian juga memiliki kontribusi yang langsung berupa efek pengganda (multiplier effect) berupa berkaitan input-output antar industri dan investasi. Dampak pengganda tersebut relatif besar, sehingga sektor pertanian layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal ini sejalan dengan enam prioritas pembangunan ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu yang salah satunya adalah Revitalisasi Pertanian (Rencana Strategi Pembangunan Pertanian Tahun 2005 – 2009).

Selama periode tahun 2000 – 2003 kinerja produksi komoditas pangan secara umum cukup menggembirakan. Produksi komoditas padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar mengalami peningkatan masing-masing : 0,53; 3,38; 3,22; 2,81 dan 2,35 persen per tahun, namun rata-rata laju pertumbuhan komoditas kedelai mengalami penurunan sebesar 18,48 persen per tahun, berdasarkan angka ramalan III Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004.
Berdasarkan data tersebut di atas, khususnya komoditas jagung masih dimungkinkan untuk ditingkatkan, mengingat kebutuhan akan jagung setiap tahunnya selalu bertambah. Hal ini disamping akan mengurangi import, juga akan meningkatkan pendapatan petani.
Dalam rangka menciptakan adanya swasembada jagung, perlu kiranya adanya terobosan melakukan kegiatan secara massal penanaman jagung Hibrida serta ditunjang dengan teknologi yang lain secara intensif.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Penggunaan Power Thresher dalam Upaya Memperoleh Nilai Tambah Hasil Panen Padi Sawah ( Studi di Kelurahan Kebonagung Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember) (PRT-99)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Sumber daya alam di Indonesia sebenarnya cukup besar, sehingga perlu dikelola dengan sebaik-baiknya demi tercukupinya kebutuhan pangan bagi penduduknya. Meskipun demikian, saat ini produktifitas padi rata-rata nasional ternyata masih rendah. Hal ini disebabkan kurang diterapkannya teknologi baik dari awal misalnya pemilihan benih atau bibit sampai dengan panen dan pasca panen. Menanggapi hal ini, sebenarnya pemerintah telah berupaya untuk selalu mencari jalan keluar dalam mengatasi rendahnya produkstifitas tersebut yaitu dengan mencanangkan Pembangunan Sektor Pertanian. 

Sasaran pembangunan sektor pertanian ini adalah meningkatkan hasil pertanian untuk mendukung industri yang kuat. Usaha-usaha ke arah itu tidak akan dicapai apabila petani sebagai pelaku utama tidak akan dicapai apabila petani sebagai pelaku utama tidak dibantu dan dilengkapi dengan sarana produksi misalnya alat dan mesin pertanian.

Masalah pasca panen yang dihadapi oleh petani adalah rendahnya mutu dan tingginya tingkat kehilangan. Buruknya pasca panen menyebabkan kelemahan daya tawar petani (bargaining position). Penanganan pasca panen merupakan kegiatan utama untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Prosesnya merupakan rangkaian yang komplek, tidak hanya ditentukan oleh masalah teknis saja tetapi juga melibatkan masalah sosial dan ekonomi yang menyangkut berbagai sektor dan disiplin ilmu. 


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Usaha Penggemukan Ternak Sapi Potong Hasil Inseminasi Buatan Studi di Kecamatan Panti Kabupaten Jember (PRT-98)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Kebutuhan daging sapi untuk konsumsi penduduk Indonesia dirasa semakin meningkat setiap tahun sesuai dengan kenaikan jumlah penduduk, tetapi dilain pihak pengadaan daging sapi setiap saat dirasa menurun. Bermacam-macam usaha telah dilakukan untuk usaha pengadaan sapi ini baik dengan jalan mengimpor bibit sapi, peningkatan daya reproduksi maupun pengembangan daerah peternakan di luar Jawa. Di samping itu pengadaan daging yang berkualitas baik yang biasa dikonsumsi oleh hotel dan restoran masih banyak diimpor dari luar negeri. Daging tersebut jelas kualitasnya terjamin, maka harganya menjadi mahal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan atas.

Salah satu usaha peningkatan pengadaan daging sapi bail dalam jumlah maupun kualitasnya adalah dengan usaha penggemukkan sapi. Penggemukkan sapi adalah sapi jantan yang dipelihara dalam kandang tertentu, tidak dipekerjakan tetapi hanya diberi makan dengan nilai nutrisi yang optimal untuk menaikkan berat badan dan kesehatan sapi yang maksimal. Dengan pemeliharaan sistem ini, daging yang dihasilkan akan lebih lunak walaupun kandungan lemaknya menjadi sedikit dan lebih tebal.

Usaha penggemukan sapi potong ini bertujuan menghasilkan keuntungan. Agar suatu usaha memperoleh keuntungan yang diharapkan, perencanaan harus dibuat dengan pertimbangan yang matang. Analisis komprehensif mengenai kelayakan suatu wilayah atau tempat untuk lokasi penggemukan sapi potong merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha penggemukan sapi potong.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Komparasi Usaha Pengolahan Sari Apel di CV Bromo Semeru dan CV Nusa Agro Industri Kota Batu (PRT-97)

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia sebagai negara agraris mempunyai tanggung jawab besar untuk mempromosikan sektor pertanian sebagai sektor utama dalam menunjang perekonomian negara. Untuk memenuhi hal itu perlu memajukan sektor pertanian yang selama ini terhambat oleh laju pertumbuhan usaha, oleh karena itu untuk menengahi kedua masalah tersebut perlu menumbuhkan usaha yang merupakan pemadu dan penunjang kemajuan sektor tersebut.
Tantangan dan peluang serta kondisi sumber daya pertanian yang merupakan kekayaan sumber daya potensial dalam era pembangunan nasional, serta menempatkan pembangunan pertanian pada posisi sebagai arah pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, perlu melakukan penyesuaian melalui pendekatan agribisnis untuk meraih tingkat penerimaan melalui
kemampuannya untuk bersaing guna mencapai kesejahteraan yang adil dan merata.
Menurut M Tohar. 2000, usaha didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi masyarakat dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Usaha pengolahan sari apel merupakan kegiatan ekonomi masyarakat yang menghasilkan produk sari apel, sehingga masyarakat memperoleh hasil penjualan dari sari apel tersebut.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Komparasi Usaha Tani Tebu Dengan Aplikasi Pupuk “Organik” Dan Pupuk An-Organik (PRT-96)

BAB I 
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Pupuk merupakan bahan yang mengandung satu atau lebih zat hara yang dibutuhkan tanaman untuk berkembang secara optimal. Tujuan utama dari pemupukan pada dasarnya adalah untuk memelihara dan untuk memperbaiki kesuburan tanah, pupuk memberikan berbagai jenis zat hara yang diperlukan tanaman. Berdasarkan jenisnya pupuk dibedakan menjadi 2 yaitu pupuk organik (alam) dan pupuk an-organik. Pupuk organik merupakan yang seluruh atau sebagian berasal alam seperti tumbuh-tumbuhan dan kotoran hewan, sedangkan pupuk an-organik merupakan pupuk yang terbuat dari zat kimia yang didalamnya terdapat unsur hara seperti nitrogen, phospat dan kalium dengan kandungan N, P2O5 dan K2 O.
Pupuk an-organik selama ini banyak diproduksi dan diedarkan seperti: Urea, ZA, KCL, NPK dan lain sebagainya. Pupuk an-organik ini lebih banyak digunakan oleh petani karena karena mutunya lebih baik jika dibandingkan dengan pupuk organik. Dengan semakin banyaknya permintaan tersebut juga diikuti dengan kenaikan harga yang terus naik. Akan tetapi dewasa ini pada saat musim tanam selain harga pupuk yang terus naik juga sering terjadinya kelangkaan pupuk dipasaran yang menjadikan petani tidak dapat berproduksi dengan maksimal.
Dewasa ini selain pupuk an-organik petani juga menggunakan pupuk organik sebagai langkah alternatif dalam menghadapi permasalahan mahalnya harga dan langkanya pupuk an-organik dipasaran untuk tanaman mereka. Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan, bahan tanaman dan limbah. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan tanah yang kecukupan bahan organik mempunyai kemapuan mengikat air lebih besar dari pada tanah yang kandungan organiknya rendah. Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami dari pada bahan pembenah buatan atau sintetis. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N, P, K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan untuk tanaman. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik dapat mencegah erosi, pengerakkan permukaan tanah (crusting) dan retakan tanah.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Kinerja Jalur Pemasaran Dan Prospek Pasar Susu Kambing (Studi Di Agriculture Technical Mission Republic Of China) (PRT-84)

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pemerintah menaruh perhatian besar terhadap perbaikan gizi masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk tujuan tersebut salah satu upaya yang dapat ditempuh ialah melalui penyediaan protein hewani baik berupa susu, daging maupun telur.
            Masyarakat Indonesia membutuhkan rata-rata 50 gram protein per hari,   20 persen diantaranya berasal dari ternak dan ikan. Protein yang berasal dari ternak cukup 4 gram per hari (Siregar, 1992).
            Susu dan produk yang terbuat dari susu merupakan komoditas unggulan untuk dikembangkan, karena merupakan salah satu jenis komoditas strategis utama dalam hal pemenuhan gizi, kesehatan dan taraf hidup bangsa Indonesia. 
            Susu kambing belum dikenal secara luas seperti halnya susu sapi. Hal ini terjadi karena adanya segmentasi pasar, yaitu jumlah konsumen yang terbatas. Rendahnya animo masyarakat terhadap konsumsi susu kambing, antara lain disebabkan adanya citra bahwa susu kambing memiliki bau khas kambing yang tajam.  Selain itu, air susu yang paling banyak dikonsumsi manusia selama ini berasal dari susu sapi, sehingga apabila hanya disebutkan “minum susu” umumnya akan dikonotasikan sebagai minum air susu sapi. Hal ini tentunya sangat disayangkan, karena susu kambing memiliki nilai gizi tinggi dengan keistimewaan  tersendiri dibandingkan dengan susu sapi. Salah satu alternatif dengan mengolah susu kambing menjadi produk olahan, seperti susu pasteurisasi, yoghurt, permen dan lainnya untuk meningkatkan nilai guna produk susu kambing agar digemari oleh konsumen. Menurut Sodiq dan Abidin (2002) yang mengutip hasil penelitian Small Ruminant Production System Network for Asia (SRUPNA), menyatakan bahwa susu kambing mudah dicerna oleh manusia dan tidak menimbulkan Lactose Intolerance, karena jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing. Khasiat susu kambing, antara lain untuk asma, anemia, thalesemia, memperlambat osteoporosis, mengontrol kadar kolesterol dalam darah dan kesehatan tubuh.


Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisa Perbandingan Pendapatan Petani Kedelai Anggota APKKI dan Non-Anggota APKKI” (Studi Kasus di Kecamatan Pilang Kenceng Kabupaten Madiun) (PRT-94)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Berbagai tindakan telah dilakukan oleh para peneliti tanaman pangan untuk membantu pemenuhan kebutuhan pangan penduduk. Akhir-akhir ini, swasembada beras yang telah dicapai Indonesia pada tahun 1984 tampaknya menghadapi berbagai tantangan seperti menurunnya laju pertumbuhan produktivitas, alih fungsi lahan pertanian yang subur untuk keperluan non-pertanian, serta pemanfatan lahan lain belum optimal. Tantangan yang serupa juga dihadapi oleh berbagai komoditas pangan yang lain seperti jagung dan kedelai.

Permintaan terhadap kedelai pada tahun 2000 diproyeksikan mencapai sekitar 3,4 juta ton, sementara produksi nasional dewasa ini baru sekitar 1,5 juta ton setiap tahun. Pemerintah terpaksa mengimpor sekitar 0,7 juta ton kedelai setiap tahunnya guna untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Dalam rangka menekan atau mengurangi ketergantungan akan impor, produksi kedelai dalam negeri perlu lebih ditingkatkan.

Berbagai upaya telah dan sedang dilaksanakan pemerintah untuk mendorong produksi kedelai, antara lain melalui program intensifikasi (Inmum, Insus, Supra Insus) dan ekstensifikasi (Upsus, Opsus). Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, penyediaan varietas unggul memegang peranan penting, disamping ketersediaan teknologi budidaya lain, sarana produksi, dan jaminan pasar yang baik (Arsyad, D.M. dan Asadi, 1991)

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Strategi Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis Melalui Penguatan Modal Usaha Kelompok Tani Di Kabupaten Blitar (PRT-93)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Berdasarkan PROPENAS 2001 – 2004 dan program pembangunan pertanian 2001 – 2004, dimana pembangunan pertanian dilaksanakan melalui dua program yaitu “Program Pengembangan Agribisnis” dan “Program Peningkatan Ketahanan Pangan”. Operasional program dilaksanakan dalam bentuk pengembangan kawasan agribisnis dan ketahanan pangan.

Sejak diberlakukannya UU No. 22 Tahun1999 tentang Pemerintah Daerah, peran pemerintah telah berubah dari pelaksana menjadi fasilitator, akselerator dan regulator program pembangunan. Program pembangunan yang dimaksud adalah program pembangunan pertanian. Dewasa ini ada suatu perubahan yang begitu mendasar dalam pengembangan bidang pertanian dimana perubahan manajemen pembangunan pertanian menuntut perubahan sikap dan perilaku aparat pemerintah dalam menggerakkan partisipasi aktif masyarakat, meningkatkan investasi swasta, serta memberdayakan masyarakat pelaku agribisnis ( petani dan pengusaha swasta disektor pertanian ).

Untuk mendukung proses perubahan tersebut, maka program pembangunan pertanian dilakukan melalui : (1). Penerapan berbagai pola pemberdayaan masyarakat pelaku pembangunan agribisnis, baik petani maupun pengusaha swasta dan aparatur, (2). Fasilitas bagi terciptanya iklim yang kondusif bagi perkembangan kreativitas dan kegiatan ekonomi masyarakat serta merangsang tumbuhnya investasi masyarakat dan dunia usaha, (3) Fasilitas penyedia sarana dan prasarana fisik yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan publik untuk mendukung sektor pertanian serta lingkungan usaha secara luas, dan (4) Fasilitas dalam rangka percepatan akselerasi pembangunan di wilayah kabupaten.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pengaruh Motivasi Terhadap Perilaku Kerja Petani Tebu (Studi di Kecamatan Gurah Kabupaten ... (PRT-92)

BAB  I
 PENDAHULUAN

1.       1.   Latar Belakang
Masalah konsumsi dan pemenuhannya akan tetap merupakan agenda penting kini dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Status konsumsi pangan penduduk sering dipakai sebagai salah satu indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Karena itu, krisis penyediaan pangan akan menjadi masalah yang sangat sensitif dalam dinamika kehidupan sosial politik. Oleh karena pemerintah terus berupaya untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk  (Wibowo, 2000).

Memasuki milenium ketiga, maka sosok sektor pertanian yang harus dibangun adalah berwujud pertanian modern yang tangguh, efesien yang dikelola secara profesional dan memiliki keunggulan memenangkan persaingan di pasar global baik untuk tujuan pemenuhan dalam negeri maupun ekspor (Krisnamurti, 2001). Dengan semakin terintegrasinya kedalam perekonomian dunia di era globalisasi dewasa ini, menuntut pengembangan usaha tani dan produk pertanian harus siap menghadapi persaingan terbuka yang semakin ketat agar tidak tergilas dengan para persaingnya dari luar negeri. Untuk itu paradigma pembangunan pertanian yang menekankan pada peningkatan produksi semata harus bergeser kearah peningkatan kesejahteraan keluarga petani dan aktor pertanian lainnya dengan sektor agroindustri sebagai sektor pemacunya (Napitupulu, 2000).

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Kinerja Program Pembelian Gabah Oleh Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan Di Kabupaten ...(PRT-91)


 I.  PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan begian integral dari pembangunan nasional dalam mewujudkan cita-cita yang terkandung dalam jiwa Pancasila dan UUD 1945 untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Sasaran pembangunan nasional dalam jangka panjang ialah terciptanya struktur ekonomi yang seimbang, dengan menciptakan kekuatan dan kemampuan pertanian yang tangguh dalam mendukung perkembangan sektor industri. Bentuk kontribusi utama sektor pertanian terhadap pembangunan nasional umumnya diwujudkan dalam menghasilkan bahan pangan bagi penduduk, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menyediakan faktor produksi dalam bentuk tenaga kerja dan pembentukan modal investasi, mendukung sektor non-pertanian melalui penyediaan bahan baku industri dan pasar bagi produksi dalam negeri serta menghasilkan devisa melalui kegiatan ekspor hasil pertanian.

  Kebanyakan negara-negara Dunia Ketiga, seperti halnya Indonesia, bahan pangan merupakan bagian terbesar dari komponen konsumsi penduduk, fluktuasi harga pangan yang sangat tinggi dapat menggaggu stabilitas kehidupan ekonomi yang tentu saja sangat mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi. Bertitik tolak dari pendapat inilah, upaya pemerintah dalam hal stabilisasi harga pangan masih cukup relevan, setidaknya sampai tercipta suatu fase dimana pangsa pengeluaran terhadap bahan makanan tidak lagi menjadi bagian yang sangat dominan. 

Perubahan konsumsi tanaman pangan bergantung pada kenaikan dan distribusi pendapatan, pengeluaran dan juga pada pembagian pengeluaran diantara kelas-kelas pendapatan. Untuk setiap distribusi penambahan pengeluaran, permintaan beras akan meningkat lebih pesat dari pada permintaan bahan pangan sekunder lainnya (L. Squire, 1976:64).

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Dampak Cooperative Farming Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani (Studi Kasus Di Desa … Kecamatan … Kabupaten … (PRT-90)

I. PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Arah kebijakan pembangunan ekonomi yang diamanatkan GBHN 1999-2004 secara garis besar menyangkut proses transformasi dari keunggulan komparatif (comparative advantage) menuju pada keunggulan kompetitif (competitive advantage), proses pemberdayaan usaha kecil, menengah dan koperasi sebagai aktor utama pembangunan ekonomi dan percepatan pembangunan ekonomi daerah dalam rangka mempercepat otonomi daerah.

Pengembangan sektor pertanian tidak terlepas dari visi dan misi pembangunan pertanian, dirumuskan sebagai pertanian modern yang tangguh dan efisien. Namun demikian usaha untuk membentuk pertanian yang tangguh dan efisien ini masih terhambat dengan masalah klasik, yaitu banyaknya usaha pertanian keluarga yang pada umumnya berimplikasi pada lingkaran permasalahan yang dimulai dengan lahan sempit yang berakibat pada perolehan produk yang rendah. Selanjutnya adalah posisi tawar (bargaining position) petani yang lemah dalam menjual produk tersebut ke pasar, harga jual produk yang rendah, pendapatan petani yang rendah, investasi dan teknologi yang rendah, dan akhirnya kembali pada tahun berikutnya kepada perolehan produk yang rendah.

Usaha memfungsikan  komponen-komponen di atas bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi, yang merupakan tahap awal pengembangan usaha pertanian. Dengan peningkatan produksi, terbukalah kesempatan berusaha di bidang pasca produksi, seperti pengolahan, distribusi dan pemasaran. Tahap kedua ditujukan pada peningkatan kemampuan pelaku usaha tani/petani untuk menyisihkan sebagian pendapatannya guna diinvestasikan kembali ke usaha pertaniannya sehingga usahanya dapat tumbuh dan berkembang dengan modal yang dibentuk setiap tahunnya. Tahap ketiga adalah mengintegrasikan usaha pertanian dengan sektor industri dan sektor lainnya untuk meningkatkan nilai tambah, yang dapat menjadi tambahan pendapatan produsen di sektor pertanian.

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Fluktuasi Harga Pisang Agung Produksi Kecamatan ... Kabupaten ...(PRT-88)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Program pengembangan hortikultura di Jawa Timur bertujuan meningkatkan produksi dan mutu produk unggulan yang berdaya saing, mengembangkan berbagai produk untuk mendukung diversifikasi pangan, mendorong perkembangan ekonomi daerah dan nasional, mengembangkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan devisa serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem dan usaha agribisnis hortikultura melalui penerapan paket teknologi sesuai standar prosedur operasional disetiap tingkatan kegiatan. 

Melalui pendekatan agribisnis dari tahun ketahun produksi hortikultura telah menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan, namun baik secara kuantitatif maupun kualitatif produksi tersebut belum seimbang dengan pertumbuhan permintaan baik dalam negeri maupun permintaan dari luas negeri. Permintaan di dalam negeri terutama disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, kesadaran masyarakat akan gizi serta perkembangan agroindustri dan pariwisata. 

Paimin (1994) mengungkapkan, walaupun pemerintah memberikan peluang dalam hal impor buah buahan sehingga vlume impor meningkat, namun kebutuhan buah secara nasional belum tercukupi. Konsumsi buah-buahan penduduk Indonesia pada tahun 1995 baru mencapai 35 kg per kapita per tahun (Effendi 1997). Sedangkan menurut ketentuan badan dunia (FAO) konsumsi ideal untuk buah buahan sebanyak 64 kg per kapita per tahun, dan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap buah pisang menurut data Susenas tahun 2002 baru mencapai 7,80 kg per kapita per tahun jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi pisang di Negara maju (Amerika Serikat) yang mencapai 22,05 kg per kapita per tahun. Dengan demikian potensi permintaan buah-buahan termasuk pisang masih cukup besar seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan. 

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Analisis Nilai Tambah, Efisiensi dan Saluran Pemasaran Agroindustri Emping Melinjo di Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar (PRT-87)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Kabupaten Blitar terletak di bagian selatan Propinsi Jawa Timur, berjarak kurang lebih 160 km dari Ibukota Propinsi, Surabaya. Kabupaten Blitar tercatat sebagai salah satu kawasan yang strategis dan mempunyai perkembangan yang cukup dinamis. Kabupaten Blitar berbatasan dengan tiga kabupaten lain, yaitu sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Malang, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Kediri, sedangkan sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang. Sementara itu, untuk sebelah selatan adalah Samudera Indonesia, yang terkenal dengan kekayaan lautnya. Apabila diukur dari atas permukaan laut, maka Kabupaten Blitar mempunyai ketinggian ± 167 m dan luas 1.588, 79 km2. Di Kabupaten Blitar terdapat Sungai Brantas yang membelah daerah ini menjadi dua, yaitu kawasan Blitar Selatan, yang mempunyai luas 689,85 km2 dan kawasan Blitar Utara. Kawasan Blitar Selatan termasuk daerah yang kurang subur. Hal ini disebabkan daerah tersebut merupakan daerah pegunungan yang berbatu, dimana batuan tersebut cenderung berkapur, sehingga mengakibatkan tanah tandus sulit untuk ditanami. Sebaliknya kawasan Blitar Utara termasuk daerah surplus karena tanahnya yang subur, sehingga banyak tanaman yang tumbuh dengan baik. Salah satu fakor penting yang mempengaruhi tingkat kesuburan tanah di kawasan Blitar Utara adalah adanya Gunung Kelud yang masih aktif, serta banyaknya aliran sungai yang cukup memadai. Gunung berapi dan sungai yang lebar berfungsi sebagai sarana penyebaran zat-zat hara yang terkandung dalam material hasil letusan gunung berapi. 

Lokasi Kabupaten Blitar berada di sebelah selatan khatulistiwa, tepatnya terletak antara 111o401 – 112o101 BT dan 7o581 – 8o915111 LS. Hal ini secara langsung mempengaruhi perubahan iklim. Iklim Kabupaten Blitar termasuk tipe c3, apabila dilihat dari rata-rata curah hujan dan bulan-bulan tahun kalender selama tahun 2000. Perubahan iklimnya seperti di daerah-daerah lain, mengikuti perubahan putaran dua iklim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Satu kenyataan yang dapat kita lihat sampai saat ini bahwa betapa pun Kabupaten Blitar sebagai daerah yang kecil dengan segala potensi alam, geografis dan iklim, serta kualitas sumber daya manusia yang sedang, ternyata telah mampu terdepan dalam keberhasilan pembangunan. Kemajuan demi kemajuan dan kemenangan demi kemenangan yang telah dicapai daerah ini adalah karena besarnya partisipasi, kesadaran dan pengabdian seluruh lapisan masyarakat. 

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Contoh Skripsi Teknik Informatika dan Komputer

Untuk mempercepat selesainya penulisan skripsi maka yang perlu dipersiapkan salah satunya adalah contoh skripsi. Dengan memiliki referensi contoh skripsi yang baik tentu akan mempermudah dalam menyusun skripsi. Jika sedang menulis skripsi teknik informatika, maka contoh yang diperlukan adalah skripsi teknik informatika pula, bukan contoh skripsi jurusan lain.

Contoh skripsi teknik informatika yang lengkap dan full content mulai dari bab awal, bab I hingga daftar pustaka dapat anda download di halaman khusus skripsi teknik informatika. Di dalamnya terdapat banyak contoh skripsi teknik informatika

Berikut Contoh Skripsi Teknik Informatika dan Komputer Lengkap. Klik Judulnya untuk melihat isinya..

Untuk mendapatkan FILE LENGKAP dalam bentuk MS-Word Mulai BAB 1 s.d. DAFTAR PUSTAKA, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Cara Seo Blogger

Contoh Tesis Pendidikan